Yeah
Hari ini kuhabiskan hanya dirumah saja…
yah…enggan rasanya harus beranjak dari tempat tidur…
walau terkadang harus, karena ada beberapa kenalan yang datang ke rumah, yah melayani tamu.
Ketika malam tiba, kuhabiskan di depan komputer, sekedar browsing. kemudian terdengar suara ibu memanggil, “ada julak gunung tu na des…”
aku turun ke bawah, kemudian kudapati sesosok tua renta yang sedang memandang jauh ke jalan dari jendela…
aku mencium tangannya, dipandangnya aku dengan matanya yang kabur dan kelabu.
diulurkannya bungkusan martabak yg masih panas kearahku.
Jauh-jauh ia datang ke rumah ku, padahal sewaktu-waktu bisa saja ia terjatuh dijalan. ya, karena ia sudah tua, mungkin sekitar 70 tahunan
lebih. Ia membawakan 2 kotak martabak yang harganya lumayan (mungkin sekitar 20rbu-an/kotak), padahal zakat yg diberikan tidak seberapa…tapi dibalas sedemikian rupa. hatiku terenyuh…
masih teringat ketika aku kecil, ia biasa datang dengan mengendarai sepeda ontel. sejak muda, kira-kira sampai 2-3 thn lalu. aku menyukainya, ia orang yang sangat baik, kupikir.
ketika aku dan ayah mengantarkannya pulang dan membawakan sedikit kue dari rumah (diam-diam), baru saja aku turun dari mobil, ia langsung mengambil bungkusan itu dariku dan dengan tertatih-tatih memasukkannya kembali ke dalam mobil. Ia marah ketika aku ingin mengambil bungkusan itu lagi.
kami dipaksa masuk kedalam rumah, dan ia menghilang masuk ke dalam kamar.
ya, rumah tua dari kayu yang sederhana, berada dipojokan, disamping rumah-rumah beton yang kokoh.
ia hanya tinggal berdua dengan istrinya, tidak ada anak mewarnai kehidupan mereka. Terkadang mereka bertengkar, misal waktu kami datang isterinya berkata “dapat dimana orang tua ini?” katanya sambil tersenyum. karena kakek itu sering pergi tiba-tiba. kakek itu marah dan terkadang berkata akan mengembalikan si isteri ke orang tuanya…seakan mereka baru menikah beberapa tahun, lucu jg^^
Mereka berjualan sembako dan minyak. Lucu, ketika ada orang datang membeli, seringkali diberi ‘bonus’ olehnya, walaupun itu malah membuatnya rugi…
mungkin baginya uang, harta, semua bukan lagi hal pokok, tidak begitu penting.
Kemudin keluar dari kamar sambil membawa 2 kaleng spRite dan satu kaleng biskuit, menyuguhkannya untuk kami. kemudian masih menyibukkan dirinya mencari kantong plastik guna membungkuskan kue untuk kami. Tapi dengan halus kami tolak, dan ia sedikit marah.
tiba kami pulang (dengan dipaksa membawa 2 kaleng sprite), ia mengantar sampai depan rumah…
melambaikan tangan…dan sang isteri yang tersenyum diambang pintu…
aku menyukai kalian…
topik lain….
untuk orang yang kusayangi saat ini.
melihat mereka mengingatkan ku akan kamu.
mungkinkah kita hidup bersama sampai tua seperti mereka???
aku ingin…
tapi apakah bisa….?
aku seringkali menyakitimu, walau kamu berusaha tahan terhadap sikapku.
tanpa halangan yang lainpun, bisakah hubungan ini dipertahankan……..??