Jodoh dan Kedewasaan Kita

Filed under: My Life — adessweet at 11:25 pm on Friday, May 16, 2008

Well…saya pikir ini adalah artikel yang sangat bagus….menusuk tepat ke jantung saya…hahahaha…oh no! kyknya saya sering banget deh berpikir seperti itu…"kapan ya saya menikah? duh…mana ya jodoh saya?" dan lain sebagainya…tapi gak pernah merenung dan menilik kembali, "apakah saya sudah dewasa???"
padahal itu yang paling penting! bagaimana mungkin saya melupakan hal terpenting ini? saya masih jauh sekali dari dewasa…huhuhuhu…
oh, saya ga perlu jadi besar, saya cuma perlu jadi dewasa…
supaya saya bisa melakoni hidup dengan lebih baik…amin!
nah, baca ya temen2…

Jodoh dan Kedewasaan Kita
Ahmad Muhammad Haddad Assyarkh

Jodoh
adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka
melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi.
Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri
melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu?
Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan
berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.
Kebanyakan
orang berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal
tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius
tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan
pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya
menjadi ‘bagian masalah’, namun kemu justru menjadi inti permasalahan
itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi"
calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua
kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja
kualitas keshalihan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu?
Jawabnya ringan, "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, ?" Memang, ada juga
jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon
yang shalih saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat
keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum
pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih
cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior
(serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah,
namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang
menakah.
Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.

Jodoh,
jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita.
Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan
Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka
hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput
kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga
itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang,
Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah
arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran
panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap
menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk
berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak
berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban
jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit
malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impn?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka
sangat
pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah
nyali ket didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika
harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.
Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.

Bagaimana
mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jik kita tidak pernah siap
untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai
kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286).
Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.

Ketika
sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus
dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima
realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.

Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

"Torehkan
hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami
memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah
memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh
telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami
istri itu dari sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari
Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a) "



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.